Editorial: Mencari Pemimpin atau Mencari Pengikut?
DISETIAP perusahaan selalu ada dua jenis karyawan. Yang pertama bekerja dengan kemampuan, integritas, dan tanggung jawab. Yang kedua bekerja dengan kemampuan membaca arah angin.
Yang pertama percaya prestasi akan membuka jalan menuju jabatan. Yang kedua percaya cukup membaca suasana hati atasan.
Pertanyaannya, siapa yang lebih berpeluang menang?
Konon, di sebuah lembaga, ada seorang karyawan yang nyaris memenuhi semua syarat untuk menduduki jabatan yang lebih tinggi. Rekam jejaknya bersih, disiplin tidak pernah tercoreng, hasil kerjanya nyata, dan integritasnya tidak diragukan. Ia hanya menunggu satu hal petunjuk dari sang direktur.
Namun petunjuk itu tak kunjung datang. Entah karena belum waktunya, atau mungkin karena kompas penunjuk jabatan memang tidak diarahkan pada kompetensi.
Sang direktur sebut saja Pak Tarigan tentu memiliki hak menentukan siapa yang akan menjadi pembantunya. Tidak ada yang salah dengan itu. Yang menjadi persoalan adalah ketika ukuran kelayakan perlahan berubah. Bukan lagi soal siapa yang paling mampu, melainkan siapa yang paling mudah diatur.
Integritas memang sering merepotkan. Orang yang berintegritas biasanya memiliki pendapat, berani mengingatkan jika ada kekeliruan, dan lebih memilih menjaga aturan daripada menjaga perasaan. Mereka mungkin tidak selalu menyenangkan didengar, tetapi sering kali merekalah yang menyelamatkan organisasi dari kesalahan.
Sebaliknya, orang yang hanya pandai mengangguk hampir tidak pernah membuat suasana rapat menjadi panas. Apa pun keputusan pimpinan dianggap benar. Kritik dianggap gangguan. Pertanyaan dipandang sebagai pembangkangan. Semua terasa nyaman.
Ironisnya, dalam organisasi yang mulai alergi terhadap suara kritis, keberanian berubah menjadi ancaman. Integritas berubah menjadi kelemahan. Kompetensi dianggap tidak terlalu penting selama loyalitas pribadi tetap terjaga.
Lalu muncullah budaya baru. Yang rajin bekerja mulai bertanya dalam hati, “Untuk apa bersusah payah jika hasil akhirnya sama?”
Yang jujur mulai belajar diam. Yang kritis mulai memilih menyingkir.
Sementara mereka yang piawai merangkai pujian perlahan mengisi ruang-ruang strategis.
Organisasi memang tetap berjalan. Rapat tetap digelar. Laporan tetap disusun. Foto-foto kegiatan tetap dipublikasikan. Dari luar semuanya tampak baik-baik saja.
Tetapi mesin yang kehilangan orang-orang terbaiknya sesungguhnya sedang mengalami kerusakan dari dalam.
Pemimpin besar tidak takut memiliki bawahan yang lebih cerdas darinya. Ia justru bangga ketika dikelilingi orang-orang yang berani mengoreksi, memberi masukan, dan menjaga organisasi tetap berada di jalur yang benar.
Sebaliknya, pemimpin yang hanya mencari pengikut biasanya lebih menikmati tepuk tangan daripada kebenaran. Ia merasa aman ketika semua orang diam. Padahal, diam belum tentu setuju. Bisa jadi mereka hanya sudah lelah berbicara.
Mungkin karena itulah kursi jabatan kadang tidak dihuni oleh orang terbaik, melainkan oleh orang yang paling pandai menyesuaikan diri dengan selera pengambil keputusan.
Jika itu yang terjadi, jangan salahkan ketika suatu hari organisasi dipenuhi orang-orang yang pandai berkata “siap”, tetapi gagap saat diminta menyelesaikan masalah.
Sebab organisasi tidak pernah runtuh karena kekurangan orang pintar. Organisasi runtuh ketika orang-orang berintegritas tidak lagi diberi ruang, sementara yang paling dekat dengan kekuasaan dianggap sebagai yang paling layak.
Dan ketika hari itu tiba, mungkin yang sesungguhnya dipromosikan bukanlah kompetensi, melainkan kepatuhan.
Sumber: bersuarakita.id
